Selasa, 01 Mei 2012

Cara Terbaik Membobol Meteran PAM Untuk Mencuri Air


SUMUR-BOR.jpg
Mudah Dipraktekkan Wanita dan Anak Anak

JIKA Anda berniat mencuri air PDAM, ada beberapa cara yang mungkin dapat ditiru. Tapi jangan ketahuan, sebab begitu terdeteksi petugas PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, di samping pasokan air PDAM di rumah Anda dihentikan, diri Anda bisa terancam dikenai denda. Atau, jika tidak menyelesaikan dengan petugas, Anda dapat dipidanakan.

Kalau para pengelola sumur artesis perumahan elit di Tanahmas mencuri dengan cara menjebol saluran pipa PDAM kemudian menyalurkan air ke warga yang berlangganan artesis, di wilayah lain melakukan modus yang berbeda-beda. Inilah di antaranya!

Di daerah Banyumanik, terutama warga kompleks perumahan elit yang ada di situ, mencuri dengan cara merusak meter. Ini bisa dilakukan dengan cara mempreteli kipas meternya. Seharusnya, jari-jari kipas meter normalnya ialah 2 centimeter, dipretel menjadi 1 centimeter atau kurang dari itu.

Dengan cara itu, putaran meternya menjadi pelan sekali. Tak tanggung-tanggung, bahkan ada juga dipreteli sampai habis sehingga kipasnya nyaris tak berputar.

Sumber-sumber yang didapat Suara Merdeka, pencurian model mempreteli kipas ini dilakukan juga oleh warga perumahan kompleks Bukitsari, Gombel Permai, bahkan marak juga komplek militer, dan asrama polisi.

Petugas PDAM sedikitnya mendapati ada 550 pelanggan di daerah tersebut yang mencuri air dengan cara tersebut.

Modus lain ialah dengan memasang T sebelum meter. Inilah yang dilakukan para warga Jl Thamrin. Di sini, si pencuri memasang T pada pipa sebelum meter, kemudian pada pipa sambungan setelah meter Anda dipasangi kran. Nah, dengan begitu, ketika Anda menutup kran, maka air akan mengalir melalui sambungan T, dan meter pun terhenti.

Kalau si pencuri sebulan hanya membayar 1 meter kubik, 2 meter kubik, atau meter cenderung utuh, tapi air terus mengalir. Padahal daerah Jl Thamrin itu merupakan wilayah yang sulit air dan tidak ada sumur publik, tentu sang pencuri akan akan gampang ketahuan. Sedikitnya sebanyak 270 pelanggan di Jl Thamrin yang kedapatan petugas mencuri air dengan model T ini.

Mestinya biar tidak terlalu mencolok, mungkin yang bisa dilakukan dilakukan pelanggan adalah kran pasca-T itu ditutup tiap dua-tiga hari sekali saja. Yah, pintar-pintarnya si pencuri sajalah.

Modus pencurian air lainnya adalah status air tutup, tetapi air tiap hari mengalir. Ini banyak dilakukan warga di daerah Tanahmas. Sedikitnya, ada 100 pelanggan di situ yang ketahuan petugas PDAM. Selain itu, ada pula yang memang murni memasang sambungan ilegal. Yang ini, marak terjadi dimana-mana, hampir merata di Kota Semarang. Kalau modus meter hilang atau rusak, jumlahnya relatif sedikit.

Itulah modus-modus pencurian air yang didapat petugas PDAM Tirta Moedal, ketika memeriksa 8.423 pelanggan di daerah-daerah tersebut, sepanjang Februari 2009-Januari 2010. Total pelanggar, ada 1.500 pelanggan/kasus. Untuk menyelidiki itu, Bidang Nonrevenue Water (NRW) menerjunkan tujuh tim, masing-masing terdiri atas empat orang.

”Terhadap pelanggan yang ketahuan, air kami matikan, kami klarifikasi, dan kalau dia mau menyelesaikan denda dan lain-lain, begitu proses selesai baru dipasang lagi. Sejauh ini yang menyelesaikan baru 60 persen, lainnya membandel,” kata Manajer Pengendali NRW PDAM Kota, Sucipto. (Yunantyo Adi S, Fahmi Z Mardizansyah-87)

 Kasus pencurian air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) diduga terjadi di beberapa tempat. Petugas PDAM Tirta Moedal Kota Semarang yang melaksanakan sweeping juga berulang kali mengungkap kasus pencurian air yang membuat kerugian hingga ratusan juta tersebut. Siapa dan bagaimana aksi pencurian tersebut dilakukan, wartawan Suara Merdeka, Fahmi Z Mardizansyah dan Yunantyo Adi S, menurunkan mulai hari ini.

SEPERTINYA
terdengar sepele, mencuri air. Namun senyatanya, praktik pencurian air bisa merugikan PDAM hingga miliaran rupiah per bulannya.
Pelakunya bisa perorangan atau kelompok yang sudah terorganisir. Bahkan, PDAM sendiri beberapa kali berhasil mengungkap adanya praktik pencurian air tersebut.

Yang mencengangkan, sebagian besar pelaku bukan dari masyarakat kalangan bawah, namun golongan mapan, merekat tinggal di perumahan elite. Misalnya pada pertengahan Desember 2009 lalu, PDAM menemukan lebih dari 100 rumah yang berada di tiga blok Perumahan Tanah Mas, diduga memanfaatkan air secara ilegal.

Penemuan itu terungkap setelah petugas dari Program Manager Pengendalian Non Revenue Water (PMPNRW)  PDAM Kota Semarang melakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan dadakan itu biasa diadakan secara rutin. Salah satu tujuannya untuk mengantisipasi, apakah di wilayah tertentu terdapat pencurian air atau tidak.

Dari hasil sweeping  tersebut, ternyata banyak warga yang tidak mengetahui air yang terpasang di rumahnya ilegal. Ditengarai, ada kelompok terorganisir yang mengkoordinir pemasangan kepada pelanggan. Modusnya, kelompok ini menawari warga yang tertarik rumahnya dipasangi air artetis. Tapi pada kenyataannya, air untuk keperluan sehari-hari itu diambilkan dari suplai air PDAM.

Hasil penelurusan mendapati, air tersebut diambil dari instalasi pengolahan air Gajahmungkur dan Kudu. Diduga mereka menjebol pipa saluran PDAM yang ada di depan rumah pelanggan untuk kemudian dipasang pipa tambahan. Melalui pipa tambahan inilah air disalurkan ke rumah pelanggan.

Setiap bulan, kelompok ini juga menarik tagihan kepada pelanggan. Harga yang ditetapkan sindikat ini besarnya variatif. Sebab mereka menarik tarif berdasarkan jumlah anggota keluarga.

Ditengarai, sindikat ini sudah lama melakukan modus praktik pencurian air tersebut, kira-kira sejak 2002. Akibatnya, selama kurun waktu delapan tahun terakhir, di tiga blok itu, PDAM mengalami kerugian sedikitnya Rp 2 miliar. Bisa jadi, kerugian yang ditaguk akan bertambah, sebab sweeping belum diadakan secara menyeluruh ke beberapa rumah yang ada di perumahan tersebut.

1.500 Pelanggaran

Manajer Pengendalian Non-Revenue Water (PNRW) PDAM Kota, Sucipto mengatakan, sweeping diadakan secara rutin. Sejak Februari 2009 hingga Februari 2010, PDAM Kota telah menemukan lebih dari 1.500 pelanggaran. Beberapa di antaranya, kasusnya sudah diproses di kepolisian.

Pada Kamis (25/2) malam lalu, dia dan jajarannya berhasil mengungkap kasus pencurian air yang dilakukan pemilik apartemen Bella Modis di Jalan Setiabudi 106 Srondol, Semarang. Petugas menggerebek apartemen berlantai tiga itu. Awal mula penemuan itu berdasar laporan warga sekitar yang mengeluh kalau air di wilayahnya beberapa bulan belakangan mengalir pelan dan tidak lancar.

Atas laporan itu, petugas memeriksa lokasi, termasuk menelusuri aliran air dari saluran. Petugas juga mengambil contoh air di apartemen itu. Kecurigaan  timbul, karena diketahui contoh air itu jelas dari PDAM. Padahal pemilik apartemen itu tidak tercatat sebagai berlangganan.

Pemeriksaan kian diperketat dari mulai pukul 09.00 hingga pukul 21.00. Petugas juga membongkar saluran air setelah ditemukan pipa tambahan yang digunakan untuk menyabotase. Pipa tambahan itulah yang membuat air mengalir ke apartemen.

Tidak hanya itu, diduga kuat air curian itu juga digunakan tiga bangunan yang menyewa di tempat tersebut. “Modus yang dipakai dalam pencurian air ini dengan cara memotong pipa distribusi air utama berdiameter 2 inci dan menambah pipa tambahan. Pipa tambahan ini menyalurkan langsung ke bak penampungan sebanyak enam buah yang terdapat di apartemen tersebut,” ujar Sucipto. (18)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar